Selasa, 12 Mei 2009

Kembali Pada Semangat Komunitas !


"Tanpa Kecerdasan kontekstual, SHK akan dibunuh tanpa sengaja oleh para pendukungnya"

Pekerjaan menggali dan membangun "Sistem Huan Kerakyatan" di Indonesia dimulai sejak 1993. yang berawal kegelisahan akan eksploitasisumber daya alam, khususnya hutan yang begitu dahsyat.

Setelah berjalan 12 tahun, terasa perlu untuk merefleksi dan mengevaluasi apakah yang dikerjakan selama ini cukup baik memperburuk suasana atau tidak ada pengaruhnya.

Buku ini disusun oleh tim yang terdiri dari 15 organisasi penggiat SHK. dari kepulauan Mentawai hingga Sulawesi Tengah.

Dirancang sederhana namun sarat informasi dan inspirasi baru untuk mendorong dan menguatkan gerakan pemberdayaan Sistem Hutan Kerakatan. Mulai dari keberhasilan politis hingga keberhasilan ekonomis / finansial.



Judul : Kembali Pada Semangat Komunitas
Evaluator : Dani W. Munggoro
Penerbit : WALHI Eknas dan KpSHK
Halaman : 75 Halaman

Jumat, 21 November 2008

PROFILE PPSHK KALBAR

Program Pemberdayaan Sistem Hutan Kerakyatan Pancur Kasih (PPSHK Pancur Kasih) adalah lembaga swadaya masyarakat, nirlaba. Didirikan pada tahun 1995 di Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar) atas inisiatif 3 ORNOP Kalbar yakni Perkumpulan Pancur Kasih (PPK), Institute Dayakalogi (ID) dan Lembaga Bela Banua Talino (LBBT).
Sejak berdiri (1995), PPSHK Pancur Kasih dihadapkan pada persoalan eksploitasi hutan secara besar-besaran yang dilakukan negara melalui Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Hutan Tanaman Industri (HTI), Perkebunan Inti Rakyat (PIRBUN), perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Ratusan ribu hektar hutan Kalimantan Barat rusak parah. Banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan menjadi menu utama masyarakat Kalbar. Rakyat (Masyarakat Adat Dayak) yang tinggal di dalam dan sekitar hutan dibuat tak berdaya olehnya. Mereka yang sudah turun-temurun hidup menyatu dengan alam harus rela kehilangan sumber bahan makanan, bahan ramuan rumah tangga, obat-obatan alami, air bersih dan mata pencaharian akibat pengelolaan hutan yang tidak memperhatikan keberlanjutan.
Amburadulnya sistem pengelolaan hutan oleh negara tersebut telah mendorong PPSHK Pancur Kasih dan beberapa aktifis ORNOP yang peduli dengan persoalan sumber-sumber kekayaan alam, khususnya hutan mulai mengalihkan perhatiannya untuk mendukung cara-cara (sistem) pengelolaan hutan yang dikembangkan secara turun-temurun oleh masyarakat adat maupun masyarakat lokal di dalam dan sekitar hutan. Model-model itu ditemukan di seluruh Kalbar dan seantero nusantara. Oleh kalangan ORNOP penggiat lingkungan dan HAM (Pertemuan PKBI 1993), beragam pola pengelolaan hutan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut kemudian dikenal sebagai ”Sistem Hutan Kerakyatan (SHK)” atau Community Based Forest System Management (CBFSM). SHK atau CBFSM kemudian diperjuangkan sebagai model alternatif pengelolaan hutan yang adil dan berkelanjutan.
Namun sangat disayangkan, keberadaan SHK hingga kini belum mendapat tempat dalam kebijakan kehutanan nasional. Bahkan kebijakan yang ada cenderung bersifat generalisasi, tidak menghargai kemampuan budaya lokal dan kekhasan ekologi setempat. Kondisi seperti ini yang mengakibatkan terjadinya kerusakan hutan, bencana alam dan kemiskinan di tengah-tengah masyarakat.

Visi dan Misi
Dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan berkelanjutan, PPSHK Pancur Kasih mengemban Visi dan Misi sebagai berikut :
VISI : Masyarakat Adat “Dayak” mampu menentukan dan mengelola kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik menuju kemandirian dalam kebersamaan dengan semangat cinta kasih untuk memperoleh kembali harkat dan martabatnya.
MISI : Untuk mencapai Visi tersebut, PPSHK Pancur Kasih mengemban misi: Melakukan kegiatan pengorganisasian rakyat, revitalisasi pengelolaan sumberdaya alam, pemberdayaan ekonomi sumber daya alam, advokasi dan promosi sistem hutan kerakyatan untuk merebut harkat martabat dan kedaulatan masyarakat adat “Dayak” dalam pengelolaan sumberdaya alam yang adil dan lestari.

(Catatan: Kata ”DAYAK” dimaksudkan bukan hanya orang dari kalangan suku DAYAK (etnis), melainkan sebutan simbolis bagi kaum kecil, lemah, miskin, dan tertindas yang ingin membebaskan diri secara bersama-sama)

Sasaran/Tujuan
1.Efektif dan efisiennya manajemen organisasi PPSHK, yang didukung oleh kualitas aktivis yang handal, militan dan berintegritas.
2.Terfasilitasinya revitalisasi kelembagaan dan hukum adat untuk memulihkan akses dan kontrol masyarakat adat terhadap sumber daya alam.
3.Terfasilitasinya pengelolaan sumber daya alam yang inovatif, adil dan lestari untuk kesejahteraan masyarakat adat.
4.Bersama masyarakat adat proaktif mempromosikan SHK untuk mempengaruhi penyusunan kebijakan PSDA yang adil dan lestari.
5.Terkelolanya jaringan di tingkat lokal, nasional dan internasional untuk mendukung Sistem Hutan Kerakyatan.

Aktifitas Utama
Untuk mencapai sasaran/tujuan
1.Pemberdayaan Sosial dan Ekonomi Masyarakat
2.Advokasi Kebijakan PSDA
3.Revitalisasi Institusi Adat Pengelola SDA
4.Promosi Model Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (CBFSM/SHK)
5.Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis
6.Study/penelitian model-model CBFSM/SHK
7.Pengembangan jaringan SHK

Wilayah Dampingan
Saat ini PPSHK Pancur Kasih melakukan pendampingan masyarakat di wilayah :
1.DAS Sekayam, Kabupaten Sanggau
2.DAS Kayan, Kabupaten Sintang
3.Jalai Lintang, Kabupaten Kapuas Hulu
4.Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang

Pengurus dan Staf
Berikut adalah susunan Pengurus dan Staf PPSHK Pancur Kasih
Penanggungjawab Program :Drs. Robertus Anselmus Mecer (Ketua PPK)
Direktur Program :Ronny Christianto, Shut.
Sekretaris Program :Tresia Diana RAS, SH
Bendahara Program :Yulita, SP
Koord. Divisi PRA :Lorensius Tatang, SP
Koord. Divisi A&P :Hermanus Sugianto, Amd
Staf Program :1. Drs. Herkulanus Lamli
:2. Seselius


ALAMAT / KONTAK :

PPSHK Pancur Kasih
Jl. 28 Oktober Blok B-1 Pontianak 78241
Kalimantan Barat 78241
Telphone : +62-561-881387, Fax : +62-561-885725,
E-mail : communitybestforest@gmail.com, ppshk@telkom.net,